Festival Irau ke-11 Dongkrak UMKM Malinau: Kisah Jaminah, Perajin Batik Desa Pelita

Malinau – Festival Budaya Irau ke-11 yang bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Malinau ke-26 tahun 2025 tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga terbukti menjadi penggerak ekonomi lokal. Ribuan pengunjung yang memadati kawasan festival turut memberi peluang emas bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya para pengrajin lokal.

Bacaan Lainnya

Salah satu pengrajin yang merasakan dampak positif langsung adalah Jaminah, perajin batik asal Desa Pelita. Ia memulai usahanya pada 2022, setelah mengikuti pelatihan yang difasilitasi Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau. “Keinginan membuka usaha batik sudah lama, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah ikut pelatihan dari Pemda, barulah saya percaya diri untuk memulai,” ujar Jaminah kepada wartawan.

Saat ini, usaha batik yang dikelola Jaminah masih berbasis rumah tangga dan dikerjakan bersama anggota keluarganya. Dalam keseharian, produksi batik mencapai 10 lembar per siklus. Namun, memasuki perayaan Irau, permintaan meningkat drastis. “Adanya Irau ini benar-benar membantu kami. Pesanan naik tajam, dan penghasilan keluarga juga ikut bertambah,” kata Jaminah.

Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah daerah, khususnya Bupati Wempi. Selain pelatihan, Pemda Malinau juga memfasilitasi promosi produk lokal melalui berbagai program dan kesempatan tampil di festival. “Dukungan Pemda Malinau, khususnya Pak Bupati Wempi, sangat berarti bagi kami. Selain pelatihan, mereka juga memfasilitasi promosi produk lokal,” imbuhnya.

Festival Irau ke-11 menampilkan beragam kesenian tradisional, pertunjukan budaya, hingga stan UMKM. Bagi para pengrajin seperti Jaminah, festival ini menjadi panggung besar untuk menunjukkan kualitas produk lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah. Kehadiran ribuan pengunjung bukan hanya meramaikan suasana, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi UMKM lokal.

Kisah Jaminah menjadi contoh nyata bagaimana festival budaya dapat menjadi katalisator ekonomi kreatif di Malinau. Ia membuktikan bahwa pengembangan usaha lokal, jika didukung pemerintah melalui pelatihan, promosi, dan fasilitas, mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.

Dengan kombinasi pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal, Festival Irau tidak hanya sekadar hiburan tahunan, tetapi juga menjadi strategi pembangunan daerah yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ke depan, Pemda Malinau berencana memperluas program serupa agar semakin banyak pengrajin lokal dapat merasakan manfaatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *