Malinau — Antusiasme masyarakat kembali memuncak di Panggung Padan Liu Burung, Sabtu siang (12/10/2025), saat ratusan peserta memadati arena Lomba Fashion Show Batik Malinau. Ajang ini menjadi salah satu kegiatan paling dinanti dalam rangkaian Festival Budaya Irau ke-11 sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 Kabupaten Malinau.
Sebanyak 319 peserta dari berbagai rentang usia tampil memukau, menampilkan ragam desain Batik Malinau yang unik dan kaya makna budaya. Dengan pola dan warna yang terinspirasi dari alam, flora, fauna, hingga filosofi masyarakat adat setempat, kain batik dipadukan secara kreatif dengan gaya busana modern yang menggambarkan dinamika generasi masa kini. Penampilan para peserta, mulai dari kategori anak hingga dewasa, berlangsung meriah dan mendapat sambutan hangat dari ribuan penonton yang memadati panggung terbuka tersebut.
Lomba tahun ini menghadirkan lima kategori penilaian, yakni:
- Anak (3–6 tahun)
- Remaja (7–12 tahun)
- Milenial I (13–16 tahun)
- Milenial II (17–35 tahun)
- Dewasa (36–49 tahun)
Masing-masing kategori menampilkan ciri khas tersendiri. Peserta anak-anak tampil lincah dan penuh ekspresi, sementara kategori remaja dan milenial menunjukkan keberanian bereksperimen dengan gaya kontemporer. Pada kategori dewasa, sentuhan elegan dan kematangan karakter gaya menjadi sorotan yang memperkaya keseluruhan tampilan acara.
Ketua Dekranasda Kabupaten Malinau, Ny. Maylenti Wempi, SE, menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahun. Menurutnya, jumlah peserta tahun ini tidak hanya meningkat, tetapi juga didominasi oleh peserta anak-anak yang menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap kain tradisional daerah.
“Untuk tahun ini, peserta sangat luar biasa dengan jumlah mencapai 319 orang dan banyak di antaranya merupakan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Batik Malinau sudah tumbuh sejak dini,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa tingginya partisipasi masyarakat memiliki dampak langsung bagi para perajin lokal. Peningkatan permintaan batik, jasa penjahit, hingga aksesori khas Malinau membantu memperkuat ekonomi kreatif daerah.
“Antusiasme masyarakat sangat berpengaruh bagi para pembatik, penjahit, dan penjual aksesoris Malinau. Terima kasih kepada seluruh peserta serta para orang tua yang memberi kesempatan bagi anak-anak untuk tampil dan mengekspresikan diri,” tambahnya.
Bagi Ny. Maylenti, fashion show ini bukan sekadar kompetisi, tetapi wadah bagi generasi muda untuk mengasah rasa percaya diri dan kemampuan berekspresi di ruang publik. Ia berharap acara semacam ini terus menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dan pelestarian budaya daerah.
Lomba Fashion Show Batik Malinau tahun ini kembali menegaskan bahwa budaya lokal dapat terus relevan dan berkembang melalui inovasi masyarakat. Melalui perpaduan tradisi dan tren modern, ajang ini memperkuat identitas budaya Malinau di tengah semarak Festival Budaya Irau ke-11, sekaligus menandai 26 tahun perjalanan kabupaten yang kaya warisan budaya tersebut.

