Pesona Tari Pesisir Warnai IRAU Malinau Ke-11: Tujuh Sanggar Unjuk Keindahan Gerak, Pagun Menjelutung Raih Juara Pertama

Malinau – Perayaan HUT ke-26 Kabupaten Malinau dan Festival Budaya IRAU ke-11 kembali menyajikan tontonan budaya yang memukau. Pada Jumat (17/10/2025) malam, Panggung Budaya Padan Liu’ Burung menjadi saksi terselenggaranya Lomba Tari Tradisional Pesisir, yang kali ini menghadirkan berbagai seni gerak khas pesisir dari Kabupaten Malinau.

Bacaan Lainnya

Sejak sore, penonton mulai memadati lokasi acara untuk menyaksikan penampilan para peserta yang mewakili tujuh sanggar tari. Begitu malam tiba, panggung yang dihiasi ornamen bernuansa maritim dan warna-warna etnik langsung hidup ketika denting musik gambus, tabuhan gendang, dan alunan melodi pesisir mulai mengiringi tiap penari memasuki panggung.

Setiap sanggar tampil dengan identitas yang kuat, menampilkan ragam koreografi yang kaya akan filosofi kehidupan masyarakat pesisir—mulai dari ritual syukur, tradisi nelayan, hingga harmoni masyarakat pesisir yang selalu menjunjung kebersamaan. Gerakan tangan yang luwes, langkah kaki yang dinamis, serta busana warna-warni menciptakan pesona tersendiri bagi penonton yang menyaksikan dari berbagai sudut panggung.

Setelah seluruh peserta tampil dan dewan juri melakukan penilaian berdasarkan aspek keselarasan gerak, keaslian tarian, penguasaan panggung, harmoni musik pengiring, dan interpretasi budaya, akhirnya diumumkan tiga kelompok terbaik pada malam itu.
Sanggar Budaya Pagun Menjelutung dari Sesayap Hilir berhasil menyabet Juara I, berkat kekompakan, detail koreografi, serta kemampuan menceritakan kisah pesisir melalui gerakan yang kuat dan anggun.
Di posisi Juara II, tampil Busak Sarai Asshabirin dari Malinau Utara yang memukau dengan eksplorasi musik tradisional pesisir yang ritmis dan koreografi dramatis.
Sementara itu, Zapin Gambus Alzahra dari Malinau Kota meraih Juara III, berkat tarian zapin yang lembut namun tetap menonjolkan keindahan tradisi Melayu pesisir.

Lebih dari sekadar kompetisi, lomba ini menjadi ruang penting untuk memastikan bahwa warisan seni pesisir tetap hidup di tengah derasnya modernisasi. Kehadiran para penonton, terutama anak-anak dan remaja, menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat Malinau.

Lomba Tari Tradisional Pesisir ini sekaligus mempertegas peran Festival IRAU sebagai wadah pelestarian budaya lintas etnis yang membentang dari pedalaman hingga kawasan pesisir. Di bawah gemerlap lampu panggung dan tepuk tangan yang tak henti menggema, Malinau kembali membuktikan bahwa keberagaman bukan hanya dijaga—melainkan dirayakan dengan bangga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *