Pesona Dayak Abay Memukau Ribuan Pengunjung di Festival Budaya Irau ke-11 Malinau

Malinau – Pagi cerah di arena utama Padan Liu Burung, Senin (14/10/2025), disambut oleh gema gong dan lantunan nyanyian adat yang mengisi udara, menandai penampilan memukau Lembaga Adat Dayak Abay dalam rangka Festival Budaya Irau ke-11 sekaligus HUT Kabupaten Malinau ke-26.

Bacaan Lainnya

Ribuan pengunjung yang hadir tampak terpesona saat para penampil menapaki panggung dengan busana tradisional berwarna tanah, dihiasi corak khas hutan Kalimantan. Penampilan ini membawa penonton larut dalam Ritual Mal-Lanau, tradisi sakral masyarakat Dayak Abay yang diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat, keselamatan, dan kelimpahan hidup.

Selain tarian adat yang energik, Lembaga Adat Dayak Abay menampilkan dua kesenian langka yang jarang muncul di ruang publik: Dilumat dan Ngatun. Kedua tradisi ini menambah kekayaan budaya yang tersaji, sekaligus menjadi sorotan utama karena kerap kali hanya dipentaskan dalam acara adat khusus.

Ritual dan kesenian tersebut dibawakan secara khas oleh Yamin Jafan, sosok pelestari budaya yang dengan suara lembut namun berwibawa menyampaikan pesan-pesan adat, nasihat kehidupan, dan nilai kebersamaan. Setiap bait yang dilantunkannya membawa penonton menyelami filosofi hidup masyarakat Dayak Abay, yang menekankan harmoni dengan alam dan penghormatan terhadap leluhur.

Puncak penampilan ditandai dengan prosesi bersemajau, simbol persaudaraan dan kebersamaan antara penampil dan penonton. Prosesi ini menjadi momen penting bagi festival, memperlihatkan bagaimana budaya bukan sekadar tontonan, melainkan identitas yang hidup dan dijaga dengan bangga oleh masyarakat Malinau.

Ketua Lembaga Adat Dayak Abay mengungkapkan bahwa partisipasi mereka dalam Festival Irau ke-11 ini adalah wujud nyata pelestarian budaya. “Melalui penampilan hari ini, kami ingin memastikan tradisi kami tetap hidup, dikenang, dan dihargai oleh generasi muda,” ujarnya.

Festival Budaya Irau ke-11 kembali menegaskan bahwa Malinau adalah rumah bagi keberagaman budaya, tempat tradisi tumbuh, dan nilai-nilai lokal terus hidup seiring perkembangan zaman. Dari panggung ini, masyarakat dan pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga merasakan kekuatan budaya sebagai identitas dan perekat persatuan daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *