Malinau – Gelaran Festival Budaya Irau ke-11 kembali menampilkan kekayaan budaya lokal ketika Lembaga Adat Dayak Punan Kabupaten Malinau hadir dengan pagelaran adat mereka di arena utama Padan Liu Burung, Jumat pagi (17/10/2025). Penampilan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan HUT Kabupaten Malinau ke-26, yang tahun ini mengusung tema penguatan identitas budaya daerah melalui keterlibatan seluruh etnis di Bumi Intimung.
Ketua Lembaga Adat Dayak Punan, Elison, menjelaskan bahwa Festival Irau telah lama menjadi “legenda budaya dua tahunan” bagi masyarakat Malinau. Ajang ini bukan hanya perayaan seni, tetapi juga ruang bagi etnis Punan untuk memperkenalkan kekayaan adat mereka kepada generasi muda dan publik yang lebih luas.
“Tradisi ini bukan sekadar tontonan, tetapi pesan dari leluhur untuk selalu menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam,” ungkapnya.
Salah satu penampilan utama adalah Mekan Tuntano, sebuah upacara adat warisan leluhur yang menekankan rasa hormat terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Prosesi ini dibawakan dengan tarian dan musik tradisional, menggambarkan filosofi masyarakat Dayak Punan yang menjadikan tanah, air, dan hutan sebagai elemen sakral. Setiap gerak tari mencerminkan ikatan spiritual yang kuat antara manusia dan lingkungan, menunjukkan kedalaman nilai budaya yang dijaga secara turun-temurun.
Suasana festival semakin hidup dengan kehadiran warga Dayak Punan dari 10 kecamatan dan 34 desa se-Kabupaten Malinau. Mereka berkumpul membawa semangat persaudaraan, sekaligus memberikan dukungan nyata terhadap berbagai program pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, Elison menegaskan bahwa masyarakat Dayak Punan berkomitmen penuh mendukung visi besar pemerintah daerah untuk mewujudkan “Malinau Maju, Mandiri, Sejahtera” berbasis kearifan lokal. Dukungan tersebut diwujudkan dalam keterlibatan aktif mereka pada sejumlah program unggulan, seperti Wajib Belajar Malinau Maju, Desa Sarjana Unggul, Pertanian Sehat (PESAT), Milenial Mandiri, serta Smart Government (SAGET).
Elison juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Malinau, DPRD, Sekda, kepala OPD, para donatur, serta masyarakat adat yang terus setia menjaga keberlangsungan budaya daerah. Ia menilai bahwa kerja sama antara pemerintah dan masyarakat adat merupakan fondasi penting untuk mempertahankan identitas Malinau di tengah arus modernisasi.
Melalui penampilan ini, Elison berharap generasi muda Dayak Punan semakin mencintai dan memahami akar budaya mereka.
“Semoga seni dan budaya tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga menjadi semangat hidup dan kebanggaan kita bersama, bahwa budaya adalah jati diri dan kekuatan Malinau,” tutupnya.
Penampilan Lembaga Adat Dayak Punan pagi itu kembali menguatkan pesan utama Irau: bahwa pelestarian budaya adalah fondasi bagi pembangunan Malinau yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan.

