Kebersamaan Tanpa Sekat, Budaya Kawanua dan Sangir Warnai Langit Malinau

MALINAU – Suasana hangat sore hari di Padan Liu Burung, Rabu (8/10/2025), berubah menjadi lautan warna dan irama ketika paguyuban Kawanua dan Sangir tampil memukau di panggung Festival Budaya Irau ke-11.

Musik yang berpadu dengan tarian khas Sulawesi Utara, membawa penonton larut dalam semangat persaudaraan lintas etnis yang menjadi ciri khas perayaan budaya terbesar di Kabupaten Malinau ini.

Kehadiran dua komunitas asal Tanah Nyiur Melambai itu menjadi bukti kuat bahwa Malinau bukan hanya rumah bagi 11 etnis lokal, tetapi juga ruang yang ramah bagi seluruh warga dari berbagai latar budaya.

Di tengah gemuruh tepuk tangan penonton, Bupati Malinau Wempi W Mawa tampak tersenyum bangga. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi masyarakat Kawanua dan Sangir yang turut memperkaya warna Festival Irau tahun ini. “Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh warga Kawanua dan Sangir.

Partisipasi kalian adalah bukti bahwa semangat kebersamaan dan persaudaraan hidup nyata di Bumi Intimung,” ujar Bupati Wempi di hadapan ribuan pengunjung yang memadati arena.

Bupati Wempi juga mengutip filosofi hidup masyarakat Kawanua, Esa Lalan Esa Toroan — satu jalan, satu arah menuju satu tujuan. Menurutnya, nilai ini sejalan dengan semangat pembangunan Malinau yang menempatkan kebersamaan dan inklusivitas sebagai fondasi utama.

Ia juga menyinggung semboyan legendaris Si Tou Timou Tumou Tou, yang bermakna manusia hidup untuk memanusiakan sesamanya. “Nilai itu bukan hanya milik orang Minahasa, tetapi milik kita semua. Malinau kuat karena keberagaman. Kita berbeda, tapi tetap satu dalam semangat saling menghormati,” tegas Wempi.

Lebih lanjut, ia menyoroti tradisi mapalus—semangat gotong royong khas Minahasa—yang menurutnya sejalan dengan budaya solidaritas masyarakat Malinau. “Inilah energi sosial yang harus terus kita rawat. Gotong royong bukan hanya tradisi, tapi identitas bangsa,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Wempi juga membagikan kisah pertemuannya dengan Bupati Minahasa Utara sekaligus Sekjen APKASI, Joune Ganda, saat Rapat Kerja Nasional di Minahasa Utara. Ia menyebut, Joune Ganda bahkan menyatakan keinginannya untuk hadir langsung di Festival Irau mendatang. “Festival ini bukan sekadar panggung budaya, tapi jembatan persahabatan antar daerah,” katanya. Penampilan Kawanua dan Sangir sore itu menjadi lebih dari sekadar hiburan.

Seolah menjadi simbol persatuan, menegaskan bahwa budaya mampu meruntuhkan sekat, menyatukan hati, dan menguatkan bangsa. “Dari Malinau, kita kirim pesan kepada Indonesia: bahwa keberagaman bukan alasan untuk berpisah, tetapi alasan untuk terus bersama,” tutup Bupati Wempi dengan penuh semangat.

Hingga senja menutup langit Padan Liu Burung, riuh tepuk tangan penonton tak juga reda. Festival Budaya Irau ke-11 kembali membuktikan bahwa dari Malinau, semangat “Bhinneka Tunggal Ika” bukan hanya slogan—tetapi kenyataan yang hidup di tengah masyarakatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *