Deru Mesin Ketinting Guncang Sungai Sesayap, Ajang Tradisional Paling Bergengsi Ramaikan IRAU Malinau 2025

Malinau — Sungai Sesayap berubah menjadi arena penuh adrenalin pada perayaan HUT ke-26 dan IRAU ke-11 Kabupaten Malinau. Deru mesin perahu ketinting menggema sejak pagi di perairan RT 4 Desa Malinau Seberang, Antusiasme masyarakat pesisir terlihat sejak garis tepi sungai mulai dipadati penonton yang datang untuk menyaksikan salah satu ajang olahraga tradisional paling bergengsi di wilayah tersebut.

Bacaan Lainnya

Perlombaan balap ketinting tahun ini diinisiasi oleh Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Malinau dan dipercayakan penyelenggaraannya kepada Komunitas Balap Ketinting Malinau (KBKM). Ajang yang selalu menjadi magnet dalam perayaan IRAU ini dianggap sebagai wadah pembinaan minat, bakat, dan keterampilan masyarakat pesisir yang akrab dengan dunia mesin dan sungai.

Ketua KBKM, Wawan Alfatian, mengatakan bahwa gelaran balap ketinting bukan hanya sekadar hiburan bagi masyarakat, tetapi juga bentuk pelestarian tradisi sekaligus ruang berkumpul bagi para pecinta mesin.
“Lomba ini menjadi wadah bagi masyarakat pesisir untuk menyalurkan hobi, mengasah kemampuan, dan menunjukkan kreativitas mereka dalam memodifikasi mesin,” ujarnya.

Total hadiah yang diperebutkan pada tahun ini mencapai lebih dari Rp60 juta, sebuah jumlah yang cukup besar untuk kategori olahraga rekreasi tradisional. Namun menurut Wawan, nilai utama dari kegiatan ini bukan pada hadiahnya, tetapi pada manfaat sosial dan ekonomi yang lahir dari penyelenggaraannya.
“Bagi para nelayan dan masyarakat pesisir, acara ini adalah yang paling ditunggu. Selain sebagai hiburan, kegiatan ini meningkatkan kebersamaan dan menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari pedagang makanan hingga jasa perbengkelan,” tambahnya.

Sejak lomba dimulai, deretan perahu ketinting dari berbagai kategori—mesin standar, modifikasi ringan, hingga modifikasi berat—bergantian melesat di atas permukaan air. Suara mesin yang meraung berpadu dengan sorak penonton, menciptakan suasana yang khas dan penuh semangat. Tidak sedikit penonton yang datang dari desa sekitar hanya untuk menyaksikan aksi para “joki sungai” mengendalikan perahu mereka dalam lintasan yang cukup menantang.

Menurut panitia, setiap peserta diwajibkan memenuhi standar keselamatan, mulai dari penggunaan pelampung hingga pengecekan mesin sebelum turun ke lintasan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa gelaran tetap aman tanpa mengurangi esensi kompetisi yang penuh gairah.

Tak hanya menghibur, balap ketinting dianggap sebagai identitas masyarakat pesisir Sungai Sesayap. Keahlian mengolah mesin, membaca arus sungai, hingga teknik mengemudi ketinting menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ajang ini pun menjadi sarana menunjukkan kemampuan dan menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Wawan berharap kegiatan ini mendapat dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Ia percaya bahwa balap ketinting dapat berkembang menjadi agenda wisata tahunan yang mampu menarik perhatian pengunjung dari luar Malinau.
“Kita ingin ajang ini terus tumbuh, menjadi kebanggaan masyarakat pesisir, dan pada akhirnya memberi kontribusi bagi perkembangan ekonomi Malinau,” tegasnya.

Dengan antusiasme yang begitu besar, balap ketinting Sungai Sesayap kembali membuktikan dirinya sebagai ikon olahraga tradisional yang tidak hanya memacu adrenalin, tetapi juga memperkuat jalinan kebersamaan warga pesisir dalam merayakan IRAU Malinau 2025.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *