Hotel Dotaga Malinau Rasakan Dampak Positif Festival Budaya Irau Ke-11

Malinau – Festival Budaya Irau ke-11, yang berbarengan dengan perayaan HUT ke-26 Kabupaten Malinau, tidak hanya menjadi panggung pelestarian budaya, tetapi juga terbukti menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Fenomena ini dirasakan langsung oleh Hotel Dotaga Malinau, hotel baru yang baru beroperasi sejak 8 September 2025.

Bacaan Lainnya

Berlokasi di Jalan Kusuma Jaya RT.12, Kecamatan Malinau Kota, Hotel Dotaga yang memiliki 24 kamar—8 Executive Room dan 16 Deluxe Room—langsung mengalami lonjakan pemesanan menjelang penyelenggaraan Irau pada 6–8 Oktober 2025. “Untuk tanggal 6 sampai 8 Oktober kami sudah penuh. Kegiatan Irau ini sangat berdampak bagi ekonomi. Untuk sarapan tamu misalnya, kami membeli banyak kebutuhan dari pasar lokal, mulai dari lauk-pauk, sayuran, hingga kebutuhan dapur lainnya. Pasar jadi semakin ramai, dan roda ekonomi ikut berputar,” jelas Sofianti, Co-Owner Hotel Dotaga.

Efek domino dari festival ini tidak hanya terasa pada okupansi hotel, tetapi juga pada sektor logistik dan perdagangan. Seluruh kebutuhan makanan dan dapur Hotel Dotaga dipasok dari pedagang lokal, sehingga UMKM dan pasar tradisional ikut merasakan manfaat langsung dari event berskala besar ini. “Gambaran besarnya, event di Malinau seperti Irau ini berdampak luas, bukan hanya ke hotel, tapi juga UMKM dan pelaku usaha lain. Kami merasakan efek positifnya secara langsung, dan pasar terlihat makin hidup,” tambah Sofianti.

Kehadiran Hotel Dotaga sendiri merupakan bentuk keyakinan pelaku usaha terhadap potensi pariwisata Malinau. Sofianti menegaskan, ruang investasi di sektor perhotelan masih terbuka lebar dan menjanjikan. “Dotaga bisa buka di Malinau karena peluangnya masih sangat terbuka,” ujarnya.

Peresmian Hotel Dotaga dilakukan melalui acara soft opening pada 8 September 2025, yang dihadiri langsung oleh Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, S.E., M.H. Kehadiran pemerintah menegaskan dukungan terhadap tumbuhnya iklim usaha yang sehat dan mendorong sektor perdagangan, UMKM, hotel, dan restoran sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

Festival Budaya Irau sendiri telah menjadi magnet ekonomi di Malinau. Selain mendongkrak okupansi hotel, festival ini juga menggeliatkan sektor kuliner, transportasi, pasar tradisional, hingga industri kreatif. UMKM mendapat panggung untuk memasarkan produk lokal, pelaku usaha bergerak aktif, dan masyarakat pun merasakan manfaat ekonomi secara langsung.

Dengan kombinasi event budaya dan dukungan pemerintah terhadap sektor pariwisata, Malinau menunjukkan bagaimana pelestarian budaya dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang nyata.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *